Translate

Jumat, 27 Desember 2013

SAAT NASI SUDAH MENJADI BUBUR
  " maaf mas,, aku gag bisa melanjutkan ini,," ucapku dalam isak tangis malam itu. Terpaksa aku mengatakan hal itu padanya.
"Lalu bagaimana dek, mas dah sayang ma adek,mas dah nerima apa adanya adek,apa sebaiknya kita percepat saja pernikahan kita?" kata mas Andi.
"maaf mas, aku merasa kalau tetap melanjutkan hubungan ini,ini menyakitkanku,dan aku akan merasa berdosa padamu,karena berbohong atas perasaan ini". 
Mas Andi hanya mendengar apa kataku, karena dia adalah sosok seorang yang pendiam.
Namaku Anas Fitriani. Aku anak ke 4 dari 5 Bersaudara.Aku terbilang anak palin manja diantara saudaraku yang lainnya.
Mas Andi adalah seseorang yang telah menjatuhkan lamaran pada orang tuaku sebulan lalu.meski awalnya aku telah mengatakan tidak pada orang tuaku, tapi apa boleh buat,orang tuaku sudah menerima lamaran itu tanpa sepengetahuanku.akhirnya aku meng-iya-kan apa kata orang tuaku karena aku pikir ini adalah bukti kebaktianku pada orang tua. sebulan berlalu selama bulan puasa lamran itu berjalan. Tetapi ,entah setan darimana yang merasuki pikiranku. Tiba-tiba saja aku merasa sakit atas perjodohan itu.
Lalu aku Ungkapkan hal yang sebenarnya dalam hatiku yang ingin membatalkan lamaran itu.
" bu, maaf, bagaimana kalau aku membatalkan lamaran itu bu?" kataku pada ibuku yang sedang membuat kue lebaran untuk esok.
" kalau itu mau,mu .. ya sudah katakan saja sendiri pada keluarga Andi. ibu gag Ingin malu!" jawab ibuku dengan nada kesal.
Aku hanya menangis mendengar jawaban itu, ibuku seolah murka dan tak lagi peduli padaku. .
kumandang takbir bergema di seluruh jagad raya, umat muslim berbahagia atas kemenangan mereka telah lulus berpuasa selama sebulan ramadhan.
Aku merasa sangat nelangsa, yang seharusnya aku berbahagia menyambut idul fitri, ternyata aku menangis atas perasaanku yang ku tahan selama sebulan ini. "maafkan Anakmu,Mak" batinku. malam semakin larut, fajar semakin terlihat menampakan tubuhnya. Aku terbangun saat subuh kembali datang, aku bersiap mandi dan sholat subuh. Dan segera bersiap untuk sholat Id.
Dua hari pasca lebaran, dan suasana pun masih terasa lebaran saat itu.
ayah dan ibuku marah saat mengetahui aku telah mengatakan pada Mas Andi tentang pembatalan lamaran itu. 
Tak pernah aku pikirkan, orang tua yang selama ini aku sayangi menjadi sangat marah karena sikapku.Maafkan aku ibu, aku tau aku salah. tapi aku tak bisa memaksakan perasaan ini. 
dengan perasaan sangat sedih dan menangis karena melukai banyak orang. hubungan keluargaku dengan keluarga mas andi tak lagi membaik seperti dulu. Tetangga yang bagaikan saudara sendiri sekarang tak lagi sesering dulu saling tegur sapa, Itu semua karena ulahku.

hari semakin hari ku lalui hidupku seperti biasanya. Memang tak lagi seperti dulu. Aku bagai bukan seorang anak lagi di rumahku sendiri, sejak itu aku mulai menyibukan diriku dengan pekerjaanku sebagai salah seorang guru PAUD di sekolah swasta. dengan berniat melupakan masalah yang ada, melupakan semua keegoisan,kesalahanku dan semua dosaku. Aku yakin, lambat laun orang tuaku akan menerima aku lagi dengan penuh kasih sayang mereka.




____________________Bersambung_________________